Search This Blog

Thursday, February 24, 2011

RIM V.S. KOMINFO


Setelah mempelajari serangan teroris yang meluluhlantakkan Mumbai 26 November 2008 lalu, pihak keamanan India terperanjat.
Pasalnya, mereka menemukan para teroris mengandalkan telepon satelit dan GPS untuk menjalankan aksi serangan di 10 titik kota Mumbai.
Pemerintah India pun menemukan kenyataan pahit: para teroris ternyata melek teknologi, bahkan berhasil memanfaatkannya untuk menjalankan aksi biadab mereka.
Peristiwa itulah yang memicu permintaan pemerintah India kepada perusahaan telekomunikasi untuk memindahkan server mereka ke India. Tujuannya agar seluruh kegiatan komunikasi bisa dianalisa, termasuk rencana teroris ke depan.
Perusahaan pertama yang disodok adalah RIM dengan layanan Blackberry-nya, lalu kemudian Google dan Skype. Setelah melalui perundingan yang alot, RIM pun bersedia mengalah. Mereka bersedia membuat Network Data Analysis System (NDAS) di India sehingga pihak keamanan India bisa mengakses pembicaraan lewat layanan Blackberry Messenger (BBM).
Ada alasan mengapa RIM membolehkan BBM diakses. Pada BBM, lalu lintas data hanya diacak dan dikompresi, sehingga RIM bisa menghadang dan menyusun kembali data yang diacak tersebut. Hal ini berbeda jauh dengan email. Pada layanan email menggunakan BIS (Blackberry Internet Services) maupun BES (Blackberry Enterprise Services), lalu lintas email mengalami proses enkripsi.
Pada jalur BIS, enkripsinya memang tidak terlalu ketat. Proses enkripsi hanya terjadi saat email dikirim dari perangkat Blackberry ke server RIM. Setelah itu, di server RIM enkripsi tersebut dibuka dan dikirm ke pengguna tanpa enkripsi. Jadi secara teori, email tersebut bisa disadap.
Namun pada jalur BES, proses enkripsi terjadi dari email terkirim dari perangkat Blackberry, server RIM, sampai ke Blackberry penerima. Karena proses enkripsi terjadi di seluruh jalur, mustahil bagi RIM bisa membuka email tersebut. Satu-satunya cara adalah meniadakan proses enkripsi, yang tentu saja merusak konsep dasar layanan Blackberry.
Akan tetapi perlu juga diingat, enkripsi email bukanlah milik RIM seorang. Banyak software yang bisa digunakan untuk mengenkripsi email sehingga tidak seorang pun bisa membukanya. Email lewat Google dan Yahoo pun menggunakan jalur terenkripsi.
Jadi kalau ada teroris, koruptor, atau siapapun yang merencanakan kejahatan menggunakan jalur email, mereka pasti bisa melakukannya—baik menggunakan jalur enkripsi Blackberry maupun yang lain.
Salah satu alasan Kementerian Komunikasi dan Informatika menuntut RIM membuka servernya di Indonesia adalah memudahkan pelacakan teroris atau koruptor. Belajar dari kasus India, Kominfo sepertinya hanya akan mendapatkan akses untuk BBM dan email berbasis BIS. 
Cara ini memang memudahkan pihak keamanan untuk memonitor aktivitas yang mencurigakan. Namun, menurut kami Kominfo ngotot ke pihak yang salah. 
Teroris atau koruptor yang agak pintar memiliki banyak alternatif untuk berkomunikasi atau bertukaran data selain Blackberry. Ambil contoh, mereka bisa menulis email di folder draftGmail atau Yahoo yang bisa diakses seluruh pelaku. Dengan cara ini, email tidak pernah terkirim yang berarti juga tidak pernah bisa terlacak. Atau, mereka bisa mengirim data melalui layanan YouSendIt yang juga terenkripsi.
Dalam konteks yang sama, para pemburu konten pornografi juga memiliki banyak alternatif untuk mengakses konten pornografi. Jadi daripada ngotot dan menghabiskan tenaga di polemik RIM yang tidak krusial, lebih baik Kominfo mengurus proyek Ring Palapa atau internet sehat yang lebih mengena.

No comments:

Post a Comment

Ingat!!! Gunakanlah kata-kata sopan.